Cari Blog Ini

Tampilkan postingan dengan label KMB. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KMB. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Desember 2011

askep urolithiasis


UROLITHIASIS

      Definisi
Urolithiasis adalah adanya batu (kalkuli) di traktus urinarius. Urolithiasis merupakan penyakit yang salah satu tanda gejalanya adalah pembentukan batu di dalam saluran kemih.
      Etiologi
Factor-faktor yang mempengaruhi pembentukan batu:
1.      Idiopatik.
2.      gangguan saluran kemih : fomisis, striktur meatus, hipertrofi prostate, refluks vesiko-ureteral, ureterokele, konstriksi hubungan ureteropelvik.
3.      gangguan metabolisme : hiperparatiroidisme, hiperurisemia, hiperkalsiuria. Hiperkalsemia (kalsium serum tinggi) dan hiperkalsiuria (kalsium urin tinggi) dapat disebabkan oleh:
§ hiperparatiroidisme
§ asidosis tubular renal
§ malignasi
§ penyakit granulamatosa (sarkoidosis, tuberculosis), yang menyebabkan peningkatan produksi vitamin D oleh jaringan granulamatosa.
§ Masukan vitamin D yang berlebihan.
§ Masukan susu dan alkali.
§ Penyakit mieloproliferatif (leukemia, polisitemia, mieloma multiple), yang menyebabkan proliferasi abnormal sel darah merah dari sumsum tulang.
            4.      Infeksi saluran kemih oleh mikroorganisme berdaya membuat urease (Proteus mirabilis).
            5.      Dehidrasi : kurang minum, suhu lingkungan tinggi.
            6.      Benda asing : fragmen kateter, telur sistosoma.
            7.      Jaringan mati (nekrosis papil).
            8.      Multifaktor : anak di negara berkembang, penderita multitrauma.


      Patogenesis dan Patofisiologi
Sebagian besar batu saluran kencing adalah idiopatik dan dapat bersifat simtomatik ataupun asimtomatik. Teori terbentuknya batu antara lain:
a.      Teori inti matriks
Terbentuknya batu saluran kencing memerlukan adanya substansi organic sebagai inti. Substansia organic ini terutama terdiri dari mukopolisakarida dan mukoprotein A yang akan mempermudah kristalisasi dan agregasi substansi pembentuk batu.
b.      Teori supersaturasi
Terjadinya kejenuhan substansi pembentuk batu dalam urin seperti sistin, santin, asam urat, kalsium oksalat akan mempermudah terbentuknya batu.
c.       Teori presipitasi-kristalisasi
Perubahan PH urin akan mempengaruhi solubilitas substansi dalam urin. Pada urin yang bersifat asam akan mengendap sistin, santin, asam dan garam urat, sedangkan pada urin yang bersifat alkali akan mengendap garam-garam fosfat.
d.      Teori berkurangnya factor penghambat
Berkurangnya factor penghambat seperti peptid fosfat, pirofosfat, polifosfat, sitrat, magnesium, asam mukopolisakarid akan mempermudah terbentuknya batu saluran kencing.
      Factor lain terutama factor eksogen dan lingkungan yang diduga ikut mempengaruhi kalkuligenesis antara lain:
1.      Infeksi
            Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan menjadi inti pembentukan batu saluran kencing. Infeksi oleh bakteri yang memecah ureum dan membentuk ammonium akan mengubah PH urin menjadi alkali dan akan mengendapkan garam-garam fosfat sehingga akan mempercepat pembentukan batu yang telah ada.
2.      Obstruksi dan stasis urin
            Adanya obstruksi dan stasis urin akan mempermudah terjadinya infeksi.


3.      Jenis kelamin
            Data menunjukkan bahwa batu saluran kencing lebih banyak ditemukan pada pria.
4.      Ras
            Batu saluran kencing lebih banyak ditemukan di Afrika dan Asia sedangkan pada penduduk Amerika dan Eropa jarang.
5.      Keturunan
            Riwayat anggota keluarga yang mempunyai batu saluran kencing mempunyai factor resiko lebih besar menderita batu saluran kencing dibandingkan dengan tidak mempunyai riwayat tersebut.
6.      Air minum
            Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi kemungkinan terbentuknya batu, sedangkan bila kurang minum menyebabkan kadar substansi dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah pembentukan batu. Kejenuhan air yang diminum sesuai dengan kadar mineralnya terutama kalsium diperkirakan mempengaruhi terbentuknya batu saluran kencing.
7.      Pekerjaan
            Pekerja-pekerja keras seperti buruh dan petani akan mengurangi kemungkinan terjadinya batu saluran kencing daripada pekerja-pekerja yang lebih banyak duduk.
8.      Makanan
            Pada golongan masyarakat yang lebih banyak makan protein hewani angka morbiditas batu saluran kencing berkurang, sedangkan pada golongan masyarakat dengan kondisi social ekonominya rendah lebih sering terjadi. Penduduk vegetarian yang kurang makan putih telur lebih sering menderita batu saluran kencing (buli-buli dan uretra) dan hanya sedikit yang ditemukan menderita batu ginjal atau piala.
9.      Suhu
            Tempat bersuhu panas misalnya di daerah tropis di kamar mesin, meyebabkan banyak mengeluarkan keringat, akan mengurangi produksi urin dan mempermudah pembentukan batu saluran kencing.
      Tanda dan Gejala
            Tanda dan gejala penyakit batu saluran kemih ditentukan oleh letaknya, besarnya dan morfologinya. Walaupun demikian penyakit ini mempunyai tanda umum yaitu hematuria, baik hematuria terbuka atau mikroskopik; nyeri pinggang, sisi, atau sudut kostovertebral; pielonefritis dan atau sistitis; pernah mengeluarkan batu kecil ketika kencing; nyeri tekan kostovertebral; gangguan faal ginjal. Selain itu bila disertai infeksi saluran kemih dapat juga ditemukan kelainan endapan urin bahkan mungkin demam atau tanda sistemik lain.
      Manifestasi Klinik
            Manifestasi klinik adanya batu dalam traktus urinarius bergantung pada adanya obstruksi, infeksi, dan edema. Ketika batu menghambat aliran urin, terjadi obstruksi, menyebabkan peningkatan tekanan hidrostatik dan distensi piala ginjal serta ureter proksimal. Infeksi (pielonefritis dan sistitis yang disertai demam, menggigil dan disuria) dapat terjadi dari iritasi batu yang terus menerus.
            Batu di piala ginjal berkaitan dengan sakit yang dalam dan terus menerus di area kostovertebral. Hematuria dan piuria dapat dijumpai.
            Batu yang terjebak di ureter menyebabkan gelombang nyeri yang luar biasa, akut dan kolik yang menyebar ke paha dan genitalia. Pasien sering merasa ingin berkemih namun hanya sedikit urin yang keluar dan biasanya mengandung darah akibat aksi abrasif batu.
            Batu yang terjebak dikandung kemih biasanya menyebabkan gejala iritasi dan berhubungan dengan infeksi traktus urinarius dan hematuria. Jika batu menyebabkan obstruksi pada leher kandung kemih, akan terjadi retensi urin. Jika infeksi berhubungan dengan adanya batu, maka kondisi ini jauh lebih serius, disertai sepsis yang mengancam kehidupan pasien.
      Penatalaksanaan
            Tujuan dasar penatalaksanaan adalah untuk menghilangkan batu, menentukan jenis batu, mencegah kerusakan nefron, mengendalikan infeksi dan mengurangi obstruksi yang terjadi.
            Indikasi pengeluaran batu saluran kemih:
·         Obstruksi jalan kemih
·         Infeksi
·         Nyeri menetap atau nyeri berulang-ulang
·         Batu yang agaknya menyebabkan infeksi atau obstruksi
·         Batu metabolic yang tumbuh cepat.
a.      Pengurangan nyeri
            Tujuan segera dari penanganan kolik renal atau ureteral adalah untuk mengurangi nyeri sampai penyebabnya dapat dihilangkan; morfin atau meperidin diberikan untuk mencegah syok dan sinkop akibat nyeri yang luar biasa. Mandi air hangat diarea panggul dapat bermanfaat. Cairan diberikan, kecuali pasien mengalami muntah atau menderita gagal jantung kongestif atau kondisi lain yang memerlukan pembatasan cairan. Ini meningkatkan tekanan hidrostatik pada ruang di belakang batu sehingga mendorong pasase batu tersebut ke bawah. Masukan cairan sepanjang hari mengurangi konsentrasi kristaloid urin, mengencerkan urin dan menjamin haluaran urin yang besar.
b.      Pengangkatan batu
      Pemeriksaan sitoskopik dan pasase kateter ureteral kecil untuk menghilangkan batu yang menyebabkan obstruksi (jika mungkin), akan segera mengurangi tekanan-belakang pada ginjal dan mengurangi nyeri.
c.       Lithotripsi Gelombang Kejut Ekstrakorporeal (ESWL)
            Adalah prosedur noninvasive yang digunakan untuk menghancurkan batu di kaliks ginjal. Setelah batu tersebut pecah menjadi bagian yang kecil seperti pasir, sisa batu-batu tersebut dikeluarkan secara spontan.
d.      Metode Endourologi Pengangkatan Batu
            Mengangkat batu renal tanpa pembedahan mayor. Nefrostomi perkutan (atau nefrolitotomi perkutan) dilakukan dan nefroskop dimasukkan ke traktus perkutan yang sudah dilebarkan ke dalam parenkim ginjal.
e.       Ureteroskopi
            Mencakup visualisasi dan aksis ureter dengan memasukkan suatu alat ureteroskop melalui sistoskop. Batu dapat dihancurkan dengan menggunakan laser, lithotripsy elektrohidraulik atau ultrasound kemudian diangkat.
f.        Pelarutan batu
            Infus cairan kemolitik (misal: agen pembuat asam dan basa) untuk melarutkan batu dapat dilakukan sebagai alternative penanganan untuk pasien kurang beresiko terhadap terapi lain dan menolak metode lain, atau mereka yang memiliki batu yang mudah larut (struvit).
g.      Pengangkatan batu
            Jika batu terletak didalam ginjal, pembedahan dilakukan dengan nefrolitotomi (insisi pada ginjal untuk mengangkat batu) atau nefrektomi, jika ginjal tidak berfungsi akibat infeksi atau hidronefrosis. Batu dalam piala ginjal diangkat dengan pielolitotomi, sedangkan batu pada ureter diangkat dengan ureterolitotomi dan sistotomi jika batu berada dikandung kemih. Jika batu berada dikandung kemih; suatu alat dapat dimasukkan ke uretra ke dalam kandung kemih; batu kemudian dihancurkan oleh penjepit pada alat ini. prosedur ini disebut sistolitolapaksi.
      Pencegahan
      Batu ginjal terutama mengandung kalsium, fosfor dan atau oksalat. Pencegahan batu ginjal makanan dan minuman yang harus dibatasi:
·         Makanan kaya vitamin D harus dihindari (vitamin D meningkatkan reabsorpsi kalsium).
·         Garam meja dan makanan tinggi natrium harus dikurangi (Na bersaing dengan Ca dalam reabsorpsinya diginjal).
·         Daftar makanan berikut harus dihindari :
-    Produk susu: semua keju (kecuali keju yang lembut dan keju batangan); susu dan produk susu (lebih dari ½ cangkir per hari); krim asam (yoghurt).
-    Daging, ikan, unggas: otak, jantung, hati, ginjal, sardine, sweetbread, telur, ikan.
-    Sayuran: bit hijau, lobak, mustard hijau, bayam, lobak cina, buncis kering, kedelai, seledri.
-    Buah: kelembak, semua jenis beri, kismis, buah ara, anggur.
-    Roti, sereal, pasta: roti murni, sereal, keripik, roti gandum, semua roti yang dicampur pengembang roti, oatmeal, beras merah, sekam, benih gandum, jagung giling, seluruh sereal kering (kecuali keripik nasi, com flakes).
-    Minuman: teh, coklat, minuman berkarbonat, bir, semua minuman yang dibuat dari susu atau produk susu.
-    Lain-lain: kacang, mentega kacang, coklat, sup yang dicampur susu, semua krim, makanan pencuci mulut yang dicampur susu atau produk susu (kue basah, kue kering, pie).
      Diagnosa keperawatan yang muncul
1.      Nyeri akut b.d inflamasi, obstruksi dan abrasi traktus urinarius.
2.      Kurang pengetahuan tentang proses penyakit, pengobatan serta pencegahan kekambuhan b.d kurangnya informasi.
3.      Resiko infeksi






















DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah, edisi 8 volume 2, EGC, Jakarta
Haryani dan Siswandi, 2004, Nursing Diagnosis: A Guide To Planning Care, available on: www.Us.Elsevierhealth.com

Jong, W, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, EGC Jakarta
McCloskey, 1996, Nursing Interventions Classification (NIC), Mosby, USA
Ralph & Rosenberg, 2003, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2005-2006, Philadelphia USA

Soeparman & Waspadji, 1996, Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Jilid 2 Edisi 3, FKUI, Jakarta

Minggu, 11 Desember 2011

SAP TBC


SATUAN ACARA PENYULUHAN
TUBERCULOSIS
 


Topik              : Tuberculosis
Sasaran          : Masyarakat Selogiri RT5 RW1 kecamatan Selogiri
Waktu            : 25 menit
Hari / tgl          : Jumat,11 maret 2011
Pukul               : 14.30– 14.55 WIB
Tempat           : Rumah pak RT
Penyuluh         

             I.      Tujuan
a.      Tujuan Instruksional Umum
      Setelah mengikuti proses penyuluhan kesehatan selama 25 menit peserta mampu memahami dan melakukan cara merawatan dan pencegahan TBC.
b.      Tujuan Instruksional Khusus
Setelah mengikuti proses penyuluhan selama 25 menit peserta diharapkan dapat :
1.      Menjelaskan pengertian TBC
2.      Menjelaskan penyebab TBC
3.      Menjelaskan cara penularan TBC
4.      Menyebutkan  tanda-tanda TBC
5.      Menyebutkan faktor resiko TBC
6.      Menjelaskan pencegahan TBC
7.      Menjelaskan pengobatan TBC
8.      Setuju untuk melakukan pencegahan TBC
9.      Mampu melakukan cara mecegah TBC





          II.      Materi (Terlampir)
Pokok Bahasan
Sub Pokok Bahasan
Tuberculosis
1.      Pengertian TBC
2.      Penyebab TBC
3.      Cara penularan
4.      Tanda-tanda TBC
5.      Faktor resiko
6.      Pencegahan TBC
7.      Pengobatan
8.      Hasil Pengobatan


















       III.      Kegiatan Penyuluhan

No

Kegiatan Penyuluh

Waktu

Kegiatan Peserta

1
Pendahuluan
*          Memberi salam
*          Memberi pertanyaan apersepsi
*          Mengkomunikasikan pokok bahasan
*          Mengkomunikasikan tujuan
3’

*          Menjawab salam
*          Memberi salam
*          Menyimak
*          Menyimak
2
Kegiatan Inti
·         Memberikan penjelasan tentang  TBC
1.      Pengertian TBC
2.      Penyebab TBC
3.      Cara penularan
4.      Tanda-tanda TBC
5.      Faktor resiko terserang TBC
6.      Pencegahan TBC
7.      Pengobatan TBC
8.      Hasil Pengobatan TBC
·         Memberikan kesempatan peserta untuk bertanya
·         Menjawab pertanyaan peserta
16



*          Menyimak
*          Bertanya
*          Memperhatikan
3
Penutup
*          Menyimpulkan materi penyuluhan bersama peserta
*          Memberikan evaluasi secara lisan
*          Memberikan salam penutup
6

*          Memperhatikan
*          Menjawab


       IV.      Alat/bahan
Leaflet
Lembar balik
          V.      Metode
Ceramah
Tanya jawab
       VI.      Evaluasi
Jenis                : Test lisan
Waktu             : Akhir penyuluhan
Soal                 : Terlampir
Sikap              :  Mau untuk menjaga kesehatan lingkungan
                         Makan makanan bergizi

    VII.      Referensi


Amin, M.,(1999).Ilmu Penyakit Paru :Airlangga Univercity Press
Depkes RI, 2003, Buku Pedoman Untuk Prokesa Dalam Program Pemberantasan Penyakit TBC Paru. Depkes RI, Jakarta
Dirjen PPM dan PL,1999,Pedoman Penanggulanagn Tuberkolusis.

Soeparman, dkk, 1987, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi 2, UI Press, Jakarta























Lampiran 1
TUBERCULOSIS PARU

A.    Definisi
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.(Suparman,1987)

B.     Etiologi atau Penyebab
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular yang disebabkan oleh basil mikrobakterium tuberculosis. Sifat lain kuman adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. (Suparman,1987)

C.    Proses Penularan
Tuberkulosis tergolong airborne disease yakni penularan melalui droplet nuclei yang dikeluarkan ke udara oleh individu terinfeksi dalam fase aktif. Setiapkali penderita ini batuk dapat mengeluarkan 3000 droplet nuclei. Penularan umumnya terjadi di dalam ruangan dimana droplet nuclei dapat tinggal di udara dalam waktu lebih lama. Di bawah sinar matahari langsung basil tuberkel mati dengan cepat tetapi dalam ruang yang gelap lembab dapat bertahan sampai beberapa jam. Di samping penularan melalui saluran pernapasan (paling sering), M. tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit (lebih jarang). (Amin M,1999)


D.      Tanda-Tanda TBC
1.    Batuk lebih dari empat minggu.
2.    Batuk menahun dan berlendir, terutama waktu bangun tidur.
3.    Panas ringan (sumeng-sumeng) pada sore hari dan berkeringat pada malam hari.
4.    Rasa sakit pada dada atau punggung atas.
5.   Berat badan turun dan badan semakin lemah dalam beberapa tahun berurutan.
6.    Pada anak-anak sering kali dapat diraba di tepi kanan atau kirinya terdapat benjolan (pembengkakan kelenjar limfe superfisialis).
(Dirjen PPM dan PL,1999).

E.   FAKTOR RESIKO

1.                                                                                            Faktor Umur.
2.                                                                                            Tingkat Pendidikan
3.                                                                                            Pekerjaan
4.                                                                                            Kebiasaan Merokok
5.                                                                                            Kepadatan hunian kamar tidur
6.                                                                                            Pencahayaan
7.                                                                                            Ventilasi
8.                                                                                            Kondisi rumah
9.                                                                                            Kelembaban udara
10.                                                                                        Status Gizi
11.                                                                                        Keadaan Sosial Ekonomi
12.                                                                                        Perilaku

F.       Pencegahan
1      Pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan suntikan BCG (imunisasi) kepada bayi umur antara 3 s/d 14 bulan.
Langkah-langkah dalam rangka memberikan kegiatan imunisasi.
1.1 Menganjurkan orang tua bayi agar mau membawa bayinya untuk divaksinasi, serta membantu mengumpulkan bayi-bayi pada hari yang telah ditetapkan di Puskesmas atau ditempat lain.
ü  Menyampaikan daftar bayi-bayi tersebut ke Puskesmas dan meminta petugas imunisasi. Untuk datang melakukan vaksinasi di desa.

2      Peningkatan gizi keluarga
Makan bergizi dapat meningkatkan daya tahan tubuh, sehingga tubuh kita tidak mudah terkena penyakit.
Langkah-langkah dalam peningkatan gizi ini yaitu dengan anjuran :
ü  Memanfaatkan perkarangan (berternak, kolam ikan, bercocok tanam).
ü  Memakan hasil pemanfaatan perkarangan.
ü  Menyediakan makanan yang bergizi untuk dimakan oleh keluarga.
Catatan :
            Ludah (air liur) dari mulut bukan contoh yang baik.
            Penderita dianjurkan supaya membersihkan mulutnya (kumur-kumur dan lain-lain) sesudah mengeluarkan dahak.
3      Peningkatan kesehatan lingkungan
Kuman TBC akan mati kalau terkena sinar matahari, dan sabun.Membuat dan mengusahakan rumah sedemikian rupa sehingga sinar matahari dan udara segar masuk dengan leluasa ke dalam rumah dengan jalan membuka pintu dan jendela terutama pada pagi hari.
4.      Menghindari tidur dalam satu kamar dengan penderita terutama bagi anak-anak, selam 4 minggu pertama pengobatan.
5.      Meludah di tempat khusus yang tertutup, seperti kaleng yang diisi dengan air sabun.
6.      Meningkatkan kebersihan perorangan yaitu:
ü Mencuci tangan dengan sabun sehabis melayani penderita.
ü Menutup mulut waktu batuk atau bersin.


G.      Penanganan Medik
Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mengobati juga mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Paduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan. Jenis obat utama yang digunakan sesuai dengan rekomendasi WHO adalah Rifampisin, INH, Pirasinamid, Streptomisin dan Etambutol. Sedang jenis obat tambahan adalah Kanamisin, Kuinolon, Makrolide dan Amoksisilin + Asam Klavulanat, derivat Rifampisin/INH.
Untuk keperluan pengobatan perlu dibuat batasan kasus terlebih dahulu berdasarkan lokasi tuberkulosa, berat ringannya penyakit, hasil pemeriksaan bakteriologik, hapusan dahak dan riwayat pengobatan sebelumnya. Di samping itu perlu pemahaman tentang strategi penanggulangan TB yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short Course (DOTS) yang direkomendasikan oleh WHO yang terdiri dari lima komponen yaitu:
1.      Adanya komitmen politis berupa dukungan pengambil keputusan dalam penanggulangan TB.
2.      Diagnosis TB melalui pemeriksaan dahak secara mikroskopik langsung sedang pemeriksaan penunjang lainnya seperti pemeriksaan radiologis dan kultur dapat langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO) khususnya dalam 2 bulan pertama dimana penderita harus minum obat setiap hari.
3.      Kesinambungan ketersediaan paduan OAT jangka pendek yang cukup.
4.      Pencatatan dan pelaporan yang baku
Ada dua cara pemberian pengobatan penderita TBC :
1      Pengobatan jangka panjang selama 1 tahun.
2      Pengobatan jangka pendek selama 6-9 bulan.
 Dengan cara teratur yaitu :
ü  Untuk jangka panjang : 4 minggu pertama disuntik tiap hari, kemudian 48 minggu berikutnya 2 x  seminggu ke Puskesmas.
ü  Jangka pendek : 4 minggu pertama makan obat tiap hari, kemudian 22 minggu berikutnya makan obat 2 x seminggu.
Obat TBC memiliki beberapa efek samping bagi para penggunanya,beberapa efek tersebut antara lain adalah:
Penggunaan OAT dapat menyebabkan beberapa efek samping seperti gangguan saluran cerna seperti anoreksia, mual, muntah, diare (dilaporkan terjadi kolitis karena penggunaan antibiotika); sakit kepala, drowsiness; gejala berikut terjadi terutama pada terapi intermitten termasuk gejala mirip influenza ( dengan chills, demam, dizziness, nyeri tulang), gejala pada respirasi (termasuk sesak nafas), kolaps dan shock, anemia hemolitik,urine berwarna kemerahan (merupakan efek dari rifampisin).  gangguan penglihatan, berkurangnya ketajaman penglihatan, kabur dan buta warna merah dan hijau.(efek dari penggunaan ethambhutol, tetapi setelah pemakaian dhentikan akan kembali normal)

H.                                                                                                                                                                                     HASIL PENGOBATAN TB & TINDAK LANJUT
Hasil pengobatan seorang penderita TB dikategorikan: Sembuh, Pengobatan Lengkap, Meninggal, Gagal dan lain-lain (Lalai berobat, Pindah).
ü  Sembuh: ialah penderita BTA positif yang telah menyelesaikan pengobatan lengkap, dengan hasil pemeriksaan dahak BTA negatif pada dua kali pemeriksaan berurutan yaitu sebulan sebelum AP (akhir pengobatan) dan pada AP. Kesembuhan kategori-1 pada bulan ke-5 dan 6, kategori-2 pada bulan ke-7 dan 8.
ü  Pengobatan lengkap: ialah penderita yang telah mengikuti pengobatan lengkap tapi tidak dilakukan pemeriksaan ulang dahak (atau hanya diperiksa satu kali dengan hasil BTA negatif pada bulan ke-2 atau ke-5, ke-7 pada AP). Tindak lanjut: Penderita diberitahu apabila gejala muncul kembali, segera memeriksakan diri dan mengikuti prosedur tetap.
ü  Meninggal: ialah penderita yang dalam masa pengobatan diketahui meninggal karena sebab apapun.
ü  Gagal: ialah penderita BTA positif pada akhir fase awal setelah pengobatan dengan sisipan, pada akhir bulan ke-5 (kategori-1), ke-7 (kategori-2) dan AP. Tindak lanjut: pengobatannya dilakukan dengan OAT kategori-2 mulai dari awal.
ü  Lalai berobat: ialah penderita yang tidak mengambil obat lebih dari 2 bulan dalam masa antara 2-5 bulan pengobatan dengan keadaan BTA negatif sebelum berhenti berobat.
ü  Pindah: ialah penderita TB yang masih dalam masa pengobatan pindah ke kabupaten lain. Tindak lanjut: sisa obat dikirim ke saran kesehatan tempat berobat yang baru serta pencatatannya dan fotokopi kartu pengobatan TB.
(Dirjen PPM & PL,1999)















Lampiran:2
A. Soal
1. Apa yang di maksud TBC itu?
     2.Sebutkan penyebab TBC?
     3.Sebutkan cara penularan TBC yang anda ketahui?
     4.Sebutkan tanda-tanda orang terkena penyakit TBC?
     5.Sebutkan 5 faktor resiko terkena TBC?
     6.Bagaimana cara pencegahan agar tidak terkena TBC?
     7. Bagaimana cara pengobatan TBC?
B.Jawaban
  1.  Penyakit Tuberkulosis: penyakit menular langsung yang disebabkan oleh kuman TB (Mycobacterium Tuberculosis), sebagian besar kuman TB menyerang Paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya.
  2.  Penyebab penyakit TBC adalah mycobacterium tuberculosis, mycrobacterium bovis, mycrobacterium africanum, mycrobacterium canetti, mycrobacterium microti.
3. Pada waktu batuk atau bersin, penderita menyebarkan kuman ke udara dalam bentuk Droplet (percikan Dahak). Orang dapat terinfeksi kalau droplet tersebut terhirup ke dalam saluran pernapasan.
4. Tanda dan gejala TBC adalah Batuk lebih dari empat minggu, batuk menahun dan berlendir, terutama waktu bangun tidur, panas ringan (sumeng-sumeng) pada sore hari dan berkeringat pada malam hari,rasa sakit pada dada atau punggung atas,berat badan turun dan badan semakin lemah dalam beberapa tahun berurutan. Pada anak-anak sering kali dapat diraba di tepi kanan atau kirinya terdapat benjolan (pembengkakan kelenjar limfe superfisialis)
5. Faktor resiko terkena TBC adalah Faktor umur, tingkat pendidikan, pekerjaan, kebiasaan merokok.
6. Pencegahan TBCadalah memberikan suntikan imunisasi BCG, peningkatan gizi keluarga, peningkatan kesehatan lingkungan.
7. Cara pengobatan TBC adalah pengobatan penyakit ini 6 sampai 9 bulan atau bahkan bisa lebih. Apabila lupa atu kelewatan satu kali harus mengulanng dari awal
























Lampiran : 3
PEDOMAN OBSERVASI

DIABETES MELITUS DI DESA MRANGGEN



Nama responden :
Tanggal                :
Jam                      :
Tempat                 :
Observer              :

NO
kegiatan
CHECK
KETERANGAN
YA
TIDAK
1
Apa anda bersedia untuk makan makanan bergizi



2
Apa anda bersedia meningkatkan kebersihan perorangan



3
Apa anda bersedia meningkatkan kebersihan lingkungan



4
Apa anda bersedia menghindari kontak dengan penderita TBC